Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.
Ilustrasi Kepulauan Banda (foto:Istimewa/Wikipedia)
KEPULAUAN BANDA merupakan
gugusan pulau yang terdiri dari enam kepulauan kecil. Demikian kecilnya
pulau-pulau itu, jika dilihat dari peta Indonesia, maka yang akan
terlihat hanya titik-titik kecil saja.
Namun, siapa sangka jika
pulau yang sangat kecil itu pernah memainkan peran yang sangat penting
pada masa kolonial sebagai penghasil buah pala dan fuli yang dikenal
dunia sebagai buah emas.
Gugusan Kepulauan Banda yang terkenal
itu adalah Neira atau Banda Neira, Lonthor atau Banda Besar, Run, Ai,
Rozengain, dan Gunung Api. Seluruh kepulauan ini bagian dari Kepulauan
Maluku, Nusantara.
Pulau-pulau ini dikelilingi batu-batu besar
dan karang yang menonjol di permukaan laut. Luas pulau mencapai 40 mil
persegi jika laut pasang, dan jumlah penduduknya sebanyak 15.000 jiwa,
pada abad ke-16.
Untuk mencapai kepulauan ini, pedagang
rempah-rempah dan pelaut Eropa harus mengarungi ganasnya Samudera Hindia
dan pantai barat Afrika, terus menuju Asia Tengah, dan baru ke Kerajaan
Romawi.
Mereka juga bisa menempuh perjalanan lewat darat dengan
melalui Benua Asia, lalu ke Asia Tengah, dan ke Kerajaan Romawi. Meski
jauh dan berbahaya, para pedagang dan pelaut ini saling berlomba.
Hasrat
orang-orang Eropa ini adalah untuk menguasai perdagangan buah pala dan
fuli di Kepulauan Banda. Dalam perebutan kekuasaan itu, sesama bangsa
Eropa rela saling membunuh satu dengan yang lain.
Bahkan Belanda
rela memberikan wilayah koloni atau jajahan mereka di Pulau Manhattan,
daerah muara Sungai Hudson, Amerika bagian utara, yang oleh Belanda
diberi nama Nieuw Amsterdam.
Setelah berada di tangan Inggris,
Nieuw Amsterdam yang sebelumnya hanya berisi katak diganti menjadi New
York. Sejak pertengahan abad ke-19, wajah New York telah sangat berubah
dari sebelumnya.
Pembangunan kepulauan itu berlangsung sangat
cepat. Dalam seketika, rawa-rawa berubah menjadi hutan beton dan gedung
pencakar langit. Kepulauan kering itu pun kini disebut-sebut sebagai Ibu
Kota Dunia.
Sementara Kepulauan Banda yang dijajah Belanda,
sampai saat ini tetap menjadi gugusan pulau kecil yang ketinggalan jauh
dari New York. Bahkan, kepulauan itu sudah mulai dilupakan oleh banyak
orang.
Buah Emas yang Turun dari Langit
Buah
pala dan fuli di Kepulauan Banda dikenal sebagai buah emas yang turun
dari langit. Pada awalnya, buah ini merupakan karunia ilahi. Tetapi
setelah datang bangsa Eropa, karunia itu menjadi bencana.
Buah
pala yang harum mewangi, lantas menjadi bau anyir darah akibat perang
bangsa Eropa. Rakyat Banda banyak yang menjadi korbannya. Kepala mereka
dipenggal dan bumi mereka dihanguskan.
Sejarah kelam Kepulauan
Banda sejalan dengan cerita rakyat tentang asal muasal pohon pala yang
sangat tragis. Dikisahkan, ada seorang raja tersohor di Pulau Banda
Besar yang namanya Mata Guna.
Raja ini memiliki seorang
permaisuri yang bernama Putri Delima. Mereka hidup bahagia dan dikarunia
empat orang putra dan seorang putri cantik rupawan, serta baik hatinya
bernama Putri Ceilo Bintang.
Suatu hari, keluarga kerajaan ingin
pergi mengarungi laut, mencari tempat tinggal dan pusat kerajaan yang
baru. Tempat itu adalah Lonthoir, di Pulau Banda Besar.
Konflik internal dalam komunitas seni Cepet ini, konon, dipicu indikasi konflik indangyang mengintervensi pelakunya. Tapi asumsi ini disanggah tetua seni tradisi ini. Indang, sebuah fenomena metafisikan yang mendorong pencapaian intransendental pelaku; tak mengenal konflik. Konflik itu bukan bawaan indang, melainkan murni karakter pelakunya.
CEPETAN. Adalah seni topeng
tradisional khas “kebumenan” yang lebih merupakan topeng sosok
ketimbang topeng wajah. Bentuk visual topengnya lebih kasar dibanding
topeng panji. Sedangkan raut mukanya diasumsikan sebagai manifestasi
dari berbagai mahluk kasar dan mahluk halus penghuni hutan. Ada yang
menyebut seni topeng ini sebagai “cepetan alas” atau “tongbreng”
atau “dangsak”.
Kesenian tradisional
ini muncul pada abad XIX dan tumbuh di beberapa desa kawasan hulu
pegunungan utara Kebumen. Kebanyakan terdapat di desa yang memiliki
kawasan hutan dan menjadi basis-basis perkebunan onderneming
semasa pemerintahan kolonial Hindia-Belanda. Hingga masa
pendudukan fasisme Jepang di Nusantara, eksistensi seni tradisi
bercorak budaya agraris dan kental aura magis ini bertahan tumbuh;
meskipun memasuki masa-masa sulit di bawah tekanan kolonial terhadap masyarakat lokal.
Proses pembuatan
topeng cepetan ini sangatlah unik. Dikerjakan hanya oleh seorang
pembuatnya saja. Dilakukan dengan cara sembunyi-sembunyi, diantara
celah-ceruk anak sungai, di balik rimbun semak belukar. Dan misterius,
tak boleh terlihat orang lain selain oleh pembuatnya. Bahan topeng
kasar ini dibuat dari bilah kayu pule, pohon tahun bergetah
putih yang kini hanya tumbuh di kawasan hutan pegunungan.
Pada tahun 1980-an,
beberapa komunitas seni cepetan mulai melakukan penetrasi cukup
penting dibanding tahun-tahun di era sebelumnya. Yakni dengan
memasukkan elemen bunyi-bunyian lain, seperti gamelan; untuk
mengiringi penampilannya. Pada era awal, komunitas seni tradisi
cepetan hanya mengenal instrumen yang sangat sederhana. Yakni
menggunakan beberapa kentongan dan tambur atau jidur serta
“gembreng” yang terbuat dari potongan pipih bekas drum besi. Pada
era itulah, kesenian ini lebih populer disebut orang dengan istilah
“tongbreng”.
Meski tak semua
komunitas seni cepatan menggunakan instrument pengganti, tetapi
seiring dimulainya penggunaan intrumen gamelan, maka aspek tarian
atau beksan pun tak luput dari sentuhan garap. Terjadi
pergeseran dalam pergulatan estetika, dari ritme permainan komunal
tradisi, melalui proses kreatif menjadi suguhan pertunjukan yang
layak ditonton.
Seni tradisional Cepet Alas yang pada awalnya disebut pula "tong-breng" atau di tempat lain, seperti Peniron dan Watulawang, ada yang menyebutnya sebagai "Dangsak"; adalah seni tradisi asli dari Kebumen yang diestimasi tumbuh sejak -setidaknya- 2 abad lalu. Tradisi berkesenian ini muncul di kawasan hulu pegunungan utara, terutama di eks basis-basis perkebunan Onderneming pada masa kolonial Hindia Belanda. Hingga kini sebaran komunitas seni tradisi ini ditengara masih tumbuh di 9 desa pada 3 wilayah kecamatan; Karanggayam, Pejagoan dan sebagian kecil Alian.. (ap)
Adalah "Cinta Karya Budaya", sebuah komunitas seni tradisi pedukuhan Karangjoho di pinggang desa Karanggayam, yang selama 2 hari berturut-turut, 21-22 Agustus 2012; menghelat pagelaran tahunannya. Halaman bale desa Karanggayam dikepung apresian yang antusias menyaksikan, sejak dari lepas lohor yang terik hingga surya menjelang ke peraduan. Gelar seni Cepetan dari komunitas yang dipimpin Sandihardjo (55 th), setidaknya melibatkan 30-an pegiat seni tradisi ini. Dukungan pemerintahan desa terhadap entitas kesenian ini nampak besar pula. Pentas juga dilaksanakan sehari sebelumnya di pedukuhan Karangjoho, tempat kesenian ini tumbuh dan berproses untuk mengatasi berbagai problem, termasuk tantangan regenerasinya.
Pentas Seni Cepetan Karanggayam | 22 Agustus 2012 (ap)
Wacana pencarian seni tradisi yang asli Kebumen, pasca pelantikan pengurus Dewan Kesenian Daerah (16/5/2012); menjadi topik hangat sembari membenahi program 1 tahun pertamanya. Thema ini tidak bergulir tiba-tiba atau sekonyong-konyong berdiri sendiri jadi perbincangan hangat. Pemetaan unit-unit tradisi yang ada dan ditengarai telah hidup melintasi zaman dengan segala pasang-surutnya, menemukan seni topeng tradisional yang 'menyejarah' dalam konteks lokal; yakni Cepet Alas. Setelah melewati 4-6 transisi generasi, entitas kesenian ini masih ditemukan di beberapa desa kawasan hulu utara Kebumen. Diantaranya, yang tertua di Karangtengah (Karanggayam), Kajoran, Karangjoho-Karanggayam, Sentul-Kalirejo, Silampeng-Gunungsari. Juga terdapat di kawasan hulu wilayah kecamatan Pejagoan, yakni desa Watulawang dan Peniron. ***
Pada tahun 2008, ketika komunitas Sekolah Rakyat MeluBae (SRMB) ketiban sampur menyelenggarakan Arisan Teater ke-4, di Bale Kelurahan Kebumen; ditampilkanlah pementasan seni tradisi "tong-breng" atau Cepetan Alas, yang bahkan masih dalam bentuk aslinya. SRMB mengundang beberapa kolega dan tamu dari luar kota, termasuk beberapa seniman Yogya, tamu dari Sulawesi Selatan asal etnis dan keturunan raja sukuMandar; Alisjahbana. Kehadiran sang raja suku ini disertai seorang penulis buku Orang Mandar Orang Laut, M. Ridwan Alimuddin.
Pentas seni Cepetan ini diusung oleh komunitas seni tradisi dari desa Kajoran Karanggayam diapresiasi sebagai sebuah 'ekspresi dahsyat' dari Kebumen. Beberapa bulan sebelumnya, pegiat SRMB melakukan investigasi di kawasan hulu pegunungan utara Kebumen dan menemukan entitas seni tradisi yang dalam sejarah awalnya ditengarai tumbuh di basis-basis perkebunan onderneming era kolonialisme abad XIX lalu.
Dari aspek historis, menurut testimoni penutur mBah Ruslan (alm) dari Kajoran, pada awalnya, seni tradisi "tong-breng" ini merupakan manifestasi dari perlawanan penduduk pribumi terhadap ekspansi dan eksploitasi sumberdaya agraris, yang dilakukan pada terutama bidang perkebunan, oleh korporasi gaya merchantilisme Eropa yang lazim disebut VOC. Persekutuan dagang Eropa ini lah yang sejatinya "menjajah" bukan hanya bumi Jawa; melainkan hampir keseluruhan Nusantara masa itu. Catatan dari Karangjoho dan Kajoran
Yang bisa dituturkan dari komunitas seni Cepetan Alas generasi terakhir di bagian desa Karanggayam bertarikh seputar tahun 1943; yakni pada masa pendudukan fasisme Jepang. Sedangkan pada era sebelumnya tak ditemukan narasumber yang bisa menuturkannya. Korelasi terkuat dari keberadaan seni tradisional ini ditengarai kemunculannya pada kebiasaan mengiring hasil panen atas bumi pegunungan yang subur. Hasil panen berupa padi, padi gaga, palawija, rempah sayuran dan juga tembakau. Dalam perkembangan pasca kemerdekaan di fase berikutnya, seni cepetan ini sering muncul pada ritual peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia. Bagaimana kehidupan komunitas seni tradisi di era sebelum pendudukan Jepang, sedikit yang mengetahuinya. Pernyataan pihak resmi (pemdes) pun hanya bisa mengidentivikasi seni tradisi ini pada era fasisme Jepang itu. Di mana pada masa itu bangsa ini mengalami krisis pangan sebagai akibat pendudukan Dai-Nipon. Namun ada testimoni yang luput didokumentasikan, bahwa pada masa awal seni tradisi Cepet yang dalam idiom lokal disebut "tong-breng" ini tumbuh sejak masa kolonial Hindia Belanda. Bahkan ditengarai sebagai bagian dari perlawanan kultural penduduk pribumi di kawasan budaya agraris yang dieksploitasi dan dijadikan basis-basis perkebunan di bawah tekanan Cultur-stelsel serta kekuasaan onderneming VOC. Yang tersisa dalam ingatan kolektif masyarakat agraris hulu, bahwa model perlawanan budaya demikian dilancurkan pada masa pasca Perang Jawa (1830). Jejak kelaskaran Pangeran Diponegoro memang bisa ditemukan berdasarkan cerita tutur masyarakat Karanggayam. Nah, seni asli "tong-breng" atau Cepet Alas ini tumbuh pada kawasan itu dan menjadi tradisi untuk mengganggu kenyamanan penjajah. Semacam menciptakan situasi instabilitas yang mengancam keberadaan onderneming yang mengeksploitasi kawasan agraris tradisional Jawa.
yang memuat kegelisahan budaya dalam mencari alternatif seni tradisi yang benar-benar asli dari bumi Kebumen. Tanpa maksud berpolemik dalam terminologi budaya "seni tradisional asli" suatu daerah, dan melalui serangkaian pencermatan pada kurun yang panjang; pantas kiranya mengintrodusir seni tradisi "cepetan alas" ini sebagai seni tradisional asli.
Beberapa keunikan melatari muncul dan tumbuhnya seni tradisi dalam rentang awal sejarahnya sejak abad XIX lalu. Tumbuh dalam entitas pekerja masyarakat agraris yang dimobilisir oleh adminstratur onderneming, membentuk karekter tradisional dengan begitu kuatnya. (ap)